
Pemuda sebagai katalisator ditengah hiruk pikuk tagar “Kabur Aja Dulu”
#Kaburajadulu sedang ramai digaungkan oleh masyarakat indonesia. Tagar ini sepertinya sedang trend di media sosial, KaburAjaDulu adalah ekspresi digital untuk meninggalkan Indonesia sementara waktu atau bahkan secara permanen. Fenomena ini viral karena banyak anak muda yang merasa tidak memiliki harapan dan masa depan cerah di Indonesia.
Banyak netizen mengeluhkan dari beberapa penyebab yang Pertama faktor ekonomi dimana peluang kerja di Indonesia makin terbatas, gaji tidak sebanding dengan biaya hidup yang meningkat, dan kurangnya inovasi serta keadilan dalam distribusi ekonomi. Kedua faktor politik dan sosial dimana korupsi, ketidakadilan, dan diskriminasi masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Hal ini membuat banyak orang merasa tidak percaya lagi pada pemerintah dan sistem yang ada. Ketiga persepsi kualitas hidup di Indonesia makin menurun. Ini termasuk dalam hal pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang tidak lagi memenuhi harapan atau kebutuhan masyarakat.
Fenomena #KaburAjaDulu tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mendukung karena merasa hal itu adalah pilihan yang terbaik untuk masa depan mereka. Namun, ada juga yang tidak setuju karena dianggap tidak nasionalis dan tidak menghargai perjuangan para pahlawan.
Pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dan katalisator di tengah masyarakat. Namun, di tengah hiruk pikuk tagar “Kabur Aja Dulu” yang merepresentasikan keputusasaan dan kehilangan harapan, pemuda perlu memiliki keberanian dan kekuatan untuk tidak “kabur” dari masalah, melainkan menghadapinya dengan bijak dan kreatif.
Pemuda sebagai katalisator perlu memiliki kemampuan untuk:
1. Mengidentifikasi masalah: Mengidentifikasi masalah yang ada di tengah masyarakat dan memiliki keberanian untuk menghadapinya.
2. Mengembangkan solusi: Mengembangkan solusi yang kreatif dan inovatif untuk mengatasi masalah yang ada.
3. Menggerakkan perubahan: Menggerakkan perubahan dengan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam mengatasi masalah yang ada.
4. Menjadi contoh: Menjadi contoh bagi masyarakat dengan menunjukkan keberanian, kekuatan, dan komitmen untuk mengatasi masalah yang ada.
Dengan demikian, pemuda sebagai katalisator dapat membantu mengubah tagar “Kabur Aja Dulu” menjadi “Lawan Aja Dulu”, yaitu menghadapi masalah dengan keberanian dan kekuatan, bukan menghindarinya.